Minggu, 17 November 2013

''Ender`s Game'': Strategi Perang dan Seni Memahami Musuh Perang Luar ...

Details Created on Sunday, 17 November 2013 10:44 Published Date

Jakarta, GATRAnews - Lagi-lagi sebuah film fiksi ilmiah dirilis di tahun 2013, kali ini dengan tambahan sajian soal rumitnya berstrategi dalam perang dan pesan soal dampak dari perang untuk kemanusiaan. Ender`s Game hadir dengan cukup percaya diri, meski kemudian perolehan box office-nya agak mengecewakan. Namun buku novel Enders Games karya Orson Scott Card yang disebut-disebut provokatif berhasil difilmkan dengan keunggulan di akting, visual, dan skenario yang cukup menggigit oleh sineas Afrika Selatan, Gavin Hood ( X-Men Origins: Wolverine).


Ender Wiggin (Asa Butterfield), seorang kadet sekolah prajurit tempur yang cemerlang dan cerdas, namun menghadapi tantangan dari seniornya. Saat itu anak-anak muda bumi dipersiapkan untuk bertempur menghancurkan spesies serangga formic yang pernah menginvasi bumi tahun 2086 dan menewaskan jutaan jiwa. Manusia berhasil mengusir formic berkat kepahlawanan prajurit bernama Mazer Rakham (Ben Kingsley) dalam pertempuran epik yang menghancuran pesawat induk formic.Kolonel Graff (Harrison Ford) dan Mayor Gwen Anderson (Viola Davis) memiliki cara yang berbeda dalam mencari kandidat kadet yang siap memimpin pertempuran sungguhan melawan bangsa formic di planet asing. Mereka mengetes respons Ender ketika chip dalam kepalanya dicabut dan ia diolok-olok, sejauh mana ia bisa menjadi pemimpin. Ender membalikkan keadaan dann menghajar senior yang membullynya hingga terluka. Namun ia dinyatakan lulus dan dikirim ke sekolah pertempuran sungguhan yang berada di luar orbit bumi. Ia tidak boleh berkomunikasi dengan keluarganya karena harus fokus dengan pelatihan. Sekolah pertempuran menempanya sangat keras, penuh intrik dan tantangan dari pemimpin yang keras dan intolerir, kawan-kawan yang tak semua bersahabat, sikut-sikutan, dan sok jagoan.Namun ada juga yang menawarkan persahabatan ketika Ender ditransfer ke pasukan salamander. Sementara Anderson melihat kegelisahan hati dari Ender, Graff bersikeras Ender menunjukkan kemajuan pesat dan siap dikirim ke pertempuran untuk menjadi komandan dari pasukan baru, bernama pasukan naga, meski usianya di bawah persyaratan umum menjadi pemimpin. Latihan pertempuran di ruang hampa udara dan gravitasi menunjukkan kematangan Ender dalam menyusun strategi perang. Hingga membawahi anak buahnya sendiri, Ender harus bersiap menghadapi hal tak terduga dalam ujian menjadi prajurit sesungguhnya di planet yang dianggap sebagai planet terdekat yang dikolonisasi oleh bangsa formic.Asa Butterfield, aktor muda asal Inggris berusia 16 tahun yang sebelumnya sudah memukau di film Hugo, kini kembali tampil dengan akting yang memikat dan intens sebagai Ender. Berhadapan dengan senior seperti Harrison Ford dan Viola Davis, Asa dalam setiap bahasa tubuh dan ekspresinya justru bersinar dan mampu mengimbangi akting seniornya. Seberapa mampu Asa memerankan karakter yang sesuai bukunya, mungkin Scott Card punya penilaian sendiri, namun Asa mampu melebur dengan baik ke dalam karakter Ender yang cerdas, intuitif, berani, dingin; dan di saat tertentu bisa meluapkan emosi, ketakutan, dan naluri kejam dengan mengejutkan. Permainan akting Asa yang menarik menjadi penentu rasa dari Ender`s Game sejak awal hingga akhir. Bagaimana ia mengasah kecerdikan dan strategi perlahan seiring pengalamannya diungkapkan dengan porsi yang pas dalam cerita. Pemain-pemain muda lainnya menunjukkan keseriusan akting yang mirip dengan kawanan muda Star Trek.Meski dibangun dengan tempo menengah yang agak melambat di tengah, Ender`s Game tetap menyajikan cerita utuh dan komprehensif hingga akhir. Terutama ketika adegan latihan pertarungan di ruangan hampa gravitasi, didukung teknik kamera dan efek visual yang canggih membuat adegan melayang-layang, tembak-tembakan, dan tubrukannya sangat seru dan hidup. Bercermin pada kesuksesan Gravity yang menampilkan berbagai posisi adegan terombang-ambing di luar angkasanya, di Ender`s Game meski porsi bagian ini cukup kecil namun menjadi salah satu yang paling menarik disimak.Tak lupa pertempuran dan demo dari penghancuran planet formic juga diracik dengan visualisasi yang indah dan canggih. Menyisakan titik balik yang berfilosofis luas tentang seni memahami pemikiran musuh dan intrik peperangan, Ender`s Game memberikan satu pilihan film fiksi ilmiah berbalut strategi perang yang kompleks, menangkap imajinasi futuristik dengan penuh gaya, mendalam, dan tak mengecewakan. (*/Ven)


Add comment


Tidak ada komentar:

Posting Komentar